PROSULUT.com, MANADO — Tragedi penikaman yang menewaskan seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kawasan Mahakeret, Kota Manado, pekan lalu, mengguncang rasa aman masyarakat.
Peristiwa ini menjadi alarm keras atas meningkatnya kekerasan yang melibatkan anak dan remaja, sekaligus memantik desakan publik agar pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas dan terukur.
Pelaku telah diamankan oleh pihak kepolisian. Namun, di mata warga, penanganan hukum semata dinilai belum cukup.
Kekerasan dengan senjata tajam yang kian sering terjadi di kalangan remaja dianggap sebagai gejala darurat sosial yang membutuhkan solusi lintas sektor.
Gelombang aspirasi masyarakat mengarah pada perlunya Peraturan Daerah tentang Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas), termasuk pengaturan jam malam bagi anak di bawah usia 17 tahun.
Kebijakan ini diyakini mampu menekan aktivitas berisiko di malam hari dan mengembalikan rasa aman di lingkungan permukiman.
“Nyawa manusia seakan tidak lagi memiliki nilai. Alasan ‘salah paham’ terus berulang, tetapi tidak pernah bisa mengembalikan korban,” tulis seorang warga dalam tanggapan yang beredar luas di media sosial.
Masyarakat juga mendorong peran aktif ketua lingkungan dan ketua RT untuk menghidupkan kembali ronda malam sebagai upaya pencegahan dini. Meski demikian, warga menekankan pentingnya koordinasi dengan aparat kepolisian dan menghindari tindakan main hakim sendiri, mengingat pelaku kerap bergerombol dan berpotensi menimbulkan konflik baru.
Di sektor pendidikan, muncul dorongan agar pihak sekolah melakukan pemeriksaan rutin terhadap barang bawaan siswa, menyusul kekhawatiran adanya pelajar yang membawa senjata tajam ke lingkungan sekolah. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi siswa sekaligus mencegah kekerasan sejak dini.
Sorotan tajam juga diarahkan pada peran keluarga, khususnya orang tua. Pembatasan aktivitas malam, pengawasan pergaulan, serta penanaman nilai disiplin dan empati sejak dari rumah disebut sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter anak.
Tragedi di Mahakeret ini diharapkan tidak berlalu sebagai angka statistik semata, melainkan menjadi titik balik bagi semua pihak pemerintah, aparat keamanan, sekolah, dan keluarga untuk bersatu mencegah kekerasan dan menjaga masa depan generasi muda Manado.
Pewarta-Jeffry Tulandi.





