Hujan Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Sangihe, BPBD Kerahkan Dua Tim Asesmen ke Wilayah Terdampak

Posted on

PROSULUT.com, TAHUNA – Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur Kabupaten Kepulauan Sangihe sejak Selasa (21/7/2026) malam hingga Rabu (22/7/2026) dini hari memicu bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung mengerahkan dua tim asesmen untuk mendata dampak bencana sekaligus menyiapkan langkah penanganan darurat.

Kepala BPBD Kabupaten Kepulauan Sangihe, Wandu C.C. Labesi, mengatakan hujan yang berlangsung selama beberapa jam menyebabkan debit air meningkat di sejumlah titik dan memicu longsor di kawasan rawan. Hingga Rabu siang, BPBD masih melakukan pendataan bersama pemerintah kecamatan, pemerintah kampung, serta masyarakat guna memastikan jumlah warga terdampak dan tingkat kerusakan.

“Cuaca ekstrem yang terjadi sejak subuh telah menyebabkan beberapa kampung terdampak banjir dan tanah longsor. Saat ini kami masih menghimpun data untuk mengetahui jumlah keluarga yang terdampak, kondisi rumah warga, serta kerusakan fasilitas umum maupun infrastruktur lainnya sebagai dasar pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan,” ujar Labesi saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu.

Berdasarkan laporan sementara, Kecamatan Tamako menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling signifikan. Sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat tertimbun material longsor sehingga menjadi prioritas penanganan pemerintah daerah.
Untuk memastikan data yang akurat, BPBD membagi personel ke dalam dua tim asesmen. Tim pertama diterjunkan ke Kecamatan Tamako, sedangkan tim kedua melakukan pendataan di Kecamatan Tabukan Selatan. Kedua tim bertugas mengidentifikasi jumlah rumah terdampak, kerusakan fasilitas umum, kondisi infrastruktur, serta kebutuhan mendesak masyarakat.

“Kecamatan Tamako menjadi salah satu wilayah prioritas karena terdapat laporan dampak yang cukup signifikan. Setelah seluruh data terkumpul dan diverifikasi, pemerintah daerah akan turun langsung ke lokasi terdampak serta menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Labesi.

Selain merendam permukiman, longsor juga menutup akses Jalan Bentung–Lesabe akibat timbunan material tanah. Kondisi tersebut menghambat aktivitas masyarakat dan membutuhkan penanganan segera. Mengingat ruas jalan tersebut merupakan jalan nasional, BPBD telah berkoordinasi dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional untuk mempercepat proses pembersihan material longsor.

“Penanganan dilakukan sesuai kewenangan masing-masing instansi. Untuk ruas Bentung–Lesabe yang berstatus jalan nasional, pembersihan material dilakukan oleh Balai Jalan. Kami terus berkoordinasi agar jalur transportasi masyarakat dapat segera kembali normal,” ungkapnya.

Labesi
menambahkan, percepatan pembukaan akses jalan menjadi perhatian karena di Kampung Lesabe sedang berlangsung rangkaian perayaan hari ulang tahun jemaat yang membutuhkan kelancaran akses transportasi.

BPBD juga mengoordinasikan sejumlah organisasi perangkat daerah dan instansi terkait guna mempercepat penanganan darurat, termasuk pembersihan material longsor dan pendataan rumah warga yang mengalami kerusakan.

Bantuan bagi masyarakat terdampak akan disalurkan setelah proses asesmen selesai dan hasil pendataan diverifikasi. Penyaluran bantuan dijadwalkan setelah Bupati Kepulauan Sangihe kembali dari tugas luar daerah pada Jumat mendatang.

BPBD mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi hujan dengan intensitas tinggi masih berpeluang terjadi. Warga yang tinggal di bantaran sungai diminta segera melakukan evakuasi mandiri apabila debit air meningkat, sementara masyarakat di kawasan perbukitan diimbau mewaspadai tanda-tanda pergerakan tanah.
Pengguna jalan juga diminta berhati-hati saat melintasi jalur rawan longsor selama cuaca ekstrem masih berlangsung.

(Yosua Patras)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *