PROSULUT.com, KEPULAUAN SANGIHE – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Senin (8/6/2026), meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Pulau Kawio.
Selain memaksa ratusan warga mengungsi ke area terbuka, bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan parah pada rumah warga dan berbagai fasilitas vital yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat kuatnya guncangan yang disertai gempa susulan. Tidak hanya permukiman, bangunan puskesmas pembantu, sekolah dasar, dan tempat ibadah juga mengalami kerusakan yang cukup serius.
Sekretaris Kampung Kawio, Risto Mandiangan, mengatakan hingga saat ini belum terdapat laporan korban jiwa. Namun kerusakan yang ditimbulkan gempa tergolong signifikan dan berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.
“Untuk sementara belum ada korban jiwa. Karena terjadi pada pagi hari, warga masih sempat keluar rumah ketika merasakan guncangan,” ujarnya.
Kerusakan pada puskesmas pembantu menjadi perhatian utama karena fasilitas tersebut merupakan pusat pelayanan kesehatan bagi warga setempat. Di tengah kondisi darurat, stok obat-obatan juga dilaporkan mulai menipis sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu pelayanan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Sementara itu, rusaknya bangunan sekolah menyebabkan kegiatan belajar mengajar terancam terganggu. Tempat ibadah yang selama ini menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat juga tidak luput dari dampak bencana.
Hingga kini, pemerintah kampung masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah bangunan yang terdampak dan tingkat kerusakan yang terjadi. Sebanyak 480 jiwa atau 175 kepala keluarga tercatat terdampak langsung akibat gempa tersebut.
Warga berharap bantuan darurat segera disalurkan mengingat banyak masyarakat masih bertahan di luar rumah karena khawatir terhadap gempa susulan yang terus terjadi.
Kebutuhan mendesak saat ini meliputi bahan pangan, obat-obatan, perlengkapan pengungsian, serta dukungan tenaga kesehatan.
Sebagai wilayah kepulauan terluar dengan akses transportasi yang terbatas, Pulau Kawio membutuhkan perhatian dan respons cepat agar proses penanganan darurat dapat berjalan optimal dan kebutuhan masyarakat terdampak segera terpenuhi.(yopa/jet)





