PROSULUT.com, MANADO – Hari kelulusan di SDN 112 Manado, berubah menjadi momen yang berat bagi dua siswi yang seharusnya turut larut dalam kebahagiaan bersama teman-temannya. Di tengah suasana penuh tawa, pelukan, dan foto bersama orang tua, keduanya hanya bisa duduk diam menatap kursi kosong di samping mereka yang tak terisi sejak awal acara.
Saat satu per satu siswa dipanggil ke depan untuk sesi foto bersama, keduanya berjalan sendiri tanpa genggaman tangan ayah atau ibu. Tepuk tangan tetap terdengar, namun bagi mereka yang melangkah tanpa pendamping keluarga, setiap langkah terasa lebih panjang dan lebih sunyi dari biasanya. Air mata yang ditahan akhirnya jatuh juga saat nama mereka dipanggil.
“Kami ingin mereka datang, tapi tidak bisa,” ucap salah satu siswi lirih, membuat suasana seketika hening. Beberapa guru terlihat berusaha menahan haru, sementara teman-teman lain ikut terdiam menyaksikan momen yang tak biasa di hari yang seharusnya penuh kebahagiaan itu.
Di sekeliling mereka, siswa lain berfoto dengan orang tua, dipeluk dan dirayakan atas kelulusannya. Namun dua siswi itu hanya memegang lembar kelulusan dalam diam, tanpa pelukan yang menanti di ujung langkah mereka.
Meski lulus bersama teman-temannya, hari itu menyisakan cerita berbeda bagi keduanya, sebuah kelulusan yang dirayakan dengan tepuk tangan, tetapi juga dengan kesunyian yang akan sulit mereka lupakan.(jet)





