PROSULUT.com, JAKARTA — Upaya Indonesia mempercepat transformasi digital pendidikan anak usia dini (PAUD) mendapat perhatian dalam Konferensi Centre Policy Research Network (CPRN) 2026 yang berlangsung di Jakarta.
Di hadapan para peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara Asia Tenggara, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memaparkan capaian digitalisasi PAUD yang dinilai berhasil memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.
Direktur Jenderal PAUD Dikdas PNFI, Gogot Suharwoto, menyampaikan bahwa seluruh kebijakan digitalisasi PAUD dibangun berdasarkan hasil penelitian berskala nasional yang melibatkan lebih dari 67 ribu responden dari 38 provinsi.
Pendekatan berbasis data tersebut menjadi landasan pemerintah dalam memastikan setiap program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan sekolah, guru, dan peserta didik.
Hasilnya mulai terlihat nyata. Sepanjang 2025, sebanyak 63.842 sekolah menerima perangkat Interactive Flat Panel (IFP), sementara 64.191 sekolah memperoleh bantuan laptop dan perangkat penyimpanan data. Selain itu, 168 sekolah di wilayah terpencil berhasil terhubung dengan layanan internet. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan perluasan program ke lebih dari 2.300 sekolah tambahan, termasuk penyediaan panel surya bagi daerah yang belum terjangkau listrik.
Tidak hanya menghadirkan infrastruktur, transformasi digital juga mendorong peningkatan kompetensi pendidik.
Sebanyak 99,1 persen guru peserta pelatihan mengaku mengalami peningkatan kualitas pembelajaran, sedangkan 93,8 persen telah memanfaatkan IFP secara rutin di kelas.
Dukungan tersebut diperkuat melalui platform Ruang Murid yang menyediakan ratusan materi interaktif PAUD yang dapat diakses secara daring maupun luring.
Gogot menegaskan bahwa teknologi dalam pendidikan anak usia dini bukan untuk menggantikan aktivitas bermain yang menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Sebaliknya, teknologi digunakan sebagai sarana untuk memperkaya pengalaman belajar, membangun kreativitas, dan membuka ruang eksplorasi yang lebih luas bagi peserta didik.
Keikutsertaan Indonesia dalam CPRN 2026 menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan yang dijalankan tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga menjadi contoh praktik baik bagi kawasan. Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis bukti, Indonesia terus memperkuat komitmennya menghadirkan layanan pendidikan bermutu agar setiap anak, di mana pun berada, memperoleh kesempatan belajar yang setara.(*/jet)





