PROSULUT.com, MANADO – Di tengah bergulirnya program revitalisasi sekolah dari pemerintah, SDN 73 Manado justru masih menunggu kepastian. Ironisnya, sekolah yang mengalami kerusakan selama bertahun-tahun itu belum juga masuk daftar penerima bantuan, sementara proses belajar mengajar harus dilakukan dengan sistem sif akibat keterbatasan ruang kelas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 73 Manado, Megayanti Lamatenggo, mengungkapkan bahwa sekolahnya diduga tidak masuk program revitalisasi karena dalam laporan sebelumnya kondisi bangunan masih tercatat dalam keadaan baik.
“Padahal kondisi sekolah sudah bertahun-tahun mengalami kerusakan,” kata Megayanti saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, sejak dipercaya menjabat sebagai Plt Kepala Sekolah pada Oktober 2025, pihak sekolah terus berupaya memperbarui data kondisi bangunan melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Pada awal November 2025, data tersebut akhirnya diperbaiki sesuai kondisi di lapangan.
Dalam pembaruan itu, tercatat tiga ruang kelas mengalami rusak berat, satu ruang mengalami kerusakan, tiga unit toilet rusak, serta tiga ruang kelas lainnya berkategori rusak ringan.
Megayanti mengatakan, kondisi sekolah juga telah beberapa kali ditinjau langsung oleh jajaran Dinas Pendidikan, termasuk Kepala Dinas, Kepala Bidang terkait, dan pejabat teknis lainnya.
Namun hingga memasuki tahun ajaran baru 2026, belum ada kepastian mengenai program revitalisasi.
“Sudah beberapa kali ditinjau, tetapi sampai sekarang belum ada kabar. Kami hanya berharap ada perhatian serius karena ini menyangkut kenyamanan dan keselamatan anak-anak saat belajar,” ujarnya.
Kondisi tersebut memaksa sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergantian. Siswa kelas rendah masuk pada pagi hari, sedangkan siswa kelas tinggi belajar pada siang hari.
Kebijakan itu diambil karena hanya tiga ruang kelas yang masih bisa digunakan, sementara jumlah peserta didik cukup banyak.
Megayanti berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar peserta didik dapat belajar di ruang kelas yang aman dan layak.
“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin demi anak-anak. Sangat disayangkan jika sekolah yang benar-benar membutuhkan justru terus menunggu, sementara sekolah yang kondisinya masih layak sudah lebih dahulu mendapatkan revitalisasi,” tuturnya .(jet)




