PROSULUT.com, WAREMBUNGAN — Fajar pagi itu tertutup awan kelabu, dan rintik hujan turun membasahi tanah Warembungan. Namun cuaca yang teduh tak sedikit pun menyurutkan langkah jemaat GMIM G-WALE Warembungan untuk datang bersekutu dan beribadah di Rumah Gereja.
Dengan hati penuh syukur, umat Tuhan berbondong-bondong memenuhi ruang ibadah, merayakan hari Tuhan dalam kebersamaan iman.
Setelah enam hari bergumul dalam pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing, hari ketujuh menjadi saat yang dinanti, waktu untuk berhenti sejenak, memusatkan hati, dan memuliakan nama Tuhan.
Tiga kali dentang lonceng menggema, menghadirkan suasana khidmat yang menandai dimulainya ibadah.
Firman Tuhan yang menjadi dasar perenungan terambil dari Kisah Para Rasul 2:41–47, dengan perikop “Cara Hidup Jemaat yang Pertama”. Melalui bacaan ini, jemaat kembali diingatkan akan teladan gereja mula-mula, hidup dalam persekutuan, bertekun dalam pengajaran, setia dalam doa, dan saling berbagi dengan tulus hati.
Dalam khotbahnya, Ketua Badan Pekerja Majelis Wilayah Warembungan Pendeta Oly Mamesah, M.Th,
menekankan bahwa setiap talenta yang Tuhan anugerahkan bukan hanya untuk diterima, tetapi untuk dipelihara, dikembangkan, dan dijadikan berkat bagi sesama.
Jemaat diajak untuk menjauhi sikap kikir dan sebaliknya membangun kehidupan yang saling menopang dalam kasih.
“Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan hati yang tulus. Marilah kita bersujud kepada Tuhan dengan cara kita masing-masing,” ajaknya lembut, yang disambut jemaat dengan hati yang damai.
Ibadah minggu itu semakin bermakna karena dirangkaikan dengan pelantikan Panitia Perayaan Hari-Hari Raya Gerejawi (PPHRG), Panitia HUT ke-5 Wilayah Warembungan, serta Panitia Hari-Hari Raya Gerejawi Tahun 2026. Momentum ini menjadi wujud komitmen bersama untuk melayani dengan setia dan bertanggung jawab dalam setiap agenda gerejawi yang akan dilaksanakan sepanjang tahun pelayanan.
Di balik mendung dan hujan yang turun perlahan, tersimpan pesan yang indah, iman tidak pernah redup oleh keadaan.
Justru dalam kebersamaan, ketekunan, dan doa yang tulus, jemaat semakin diteguhkan untuk menjadi terang dan teladan bagi sesama. Sebuah persekutuan yang hidup, sebagaimana jemaat mula-mula, terus bertumbuh dalam kasih dan kesetiaan kepada Tuhan.(jet)




