Maulid Nabi KKIG Sangihe: Pererat Persaudaraan, Rawat Kerukunan di Tengah Keberagaman

Posted on

PROSULUT.com, SANGIHE — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat kerukunan di tengah keberagaman masyarakat.

Kegiatan yang mengusung tema “Momentum Muhasabah dan Memperbaiki Diri” tersebut berlangsung di Kantor Sekretariat KKIG, Kelurahan Santiago, Kecamatan Tahuna, Minggu (6/9/2026).

Tidak sekadar menjadi agenda keagamaan, peringatan Maulid Nabi dimanfaatkan keluarga besar KKIG untuk merefleksikan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW, sekaligus memperkuat silaturahmi dengan pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe Dr. Yopi Thungari, M.Kes., bersama istri; Komandan Lanal Tahuna Kolonel Laut (P) Hadi Subandi, M.Tr.Hanla., CRMP., bersama istri; Pasi Pers Dim 1301/Sangihe Kapten Inf Steven Josep; Ketua KKIG Sangihe Haji Syahril Ishaak; Camat Tahuna Joice M.E. Kaluara; Lurah Manente Heskia Engelbert Tulas, S.A.P.; Ustadz Supriyadi Haribae; serta sejumlah undangan lainnya.

Kebersamaan Jadi Kekuatan Organisasi
Ketua KKIG Kabupaten Kepulauan Sangihe, Haji Syahril Ishaak, dalam sambutannya menegaskan bahwa kebersamaan merupakan modal utama dalam menjaga kekuatan organisasi dan membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat.

Ia mengingatkan seluruh anggota KKIG agar tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk terpecah. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dan mempererat persaudaraan.

“Kalau tidak ada kebersamaan dalam organisasi, maka warga yang ada di dalamnya akan hancur dengan sendirinya. Karena itu, kebersamaan harus terus kita jaga,” ujarnya.

Menurut Syahril, semangat persatuan dan persaudaraan merupakan bagian penting dari keteladanan Rasulullah SAW yang patut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Terlebih, masyarakat Sangihe hidup dalam keberagaman suku, budaya, agama, dan latar belakang. Dalam kondisi tersebut, menjaga toleransi dan persaudaraan menjadi tanggung jawab bersama.

Syahril juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan Maulid Nabi dapat terlaksana dengan baik.

Ia berharap peringatan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong seluruh anggota KKIG untuk melakukan introspeksi diri serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Warga Gorontalo Bukan Lagi Pendatang
Pesan persaudaraan juga disampaikan melalui sambutan Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari yang dibacakan Asisten III Sekda, Dr. Yopi Thungari, M.Kes.

Dalam sambutannya, Bupati memberikan apresiasi kepada DPC KKIG Sangihe yang dinilai konsisten menjaga nilai-nilai kekeluargaan sekaligus berkontribusi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Peringatan Maulid Nabi, menurutnya, harus menjadi momentum untuk kembali meneladani akhlak Rasulullah SAW, terutama dalam hal kejujuran, kasih sayang, kesabaran, kepedulian, dan persaudaraan.

“Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk merenungkan kembali akhlak mulia Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai teladan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat,” ujar Thungari.

Ia menilai nilai persaudaraan yang diajarkan Rasulullah SAW memiliki makna universal karena mampu menyatukan masyarakat tanpa memandang perbedaan suku, golongan maupun latar belakang.

Nilai tersebut, kata dia, sejalan dengan filosofi KKIG, “Yang jauh didekatkan, yang dekat dieratkan.”

Filosofi itu dinilai sangat relevan dalam kehidupan masyarakat Sangihe karena menjadi
pengingat bahwa hubungan kekeluargaan harus terus dirawat, baik di dalam organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Lebih jauh, Thungari menegaskan posisi warga Gorontalo yang telah merantau dan menetap di Sangihe.
“Warga Gorontalo yang merantau ke Sangihe bukanlah tamu, melainkan saudara. Mereka bukan lagi pendatang, tetapi bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga besar Sangihe,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa keberadaan masyarakat Gorontalo di Sangihe telah menjadi bagian dari kehidupan sosial daerah dan memiliki ruang yang sama dalam membangun daerah.

KKIG Jadi Jembatan Persatuan
Menurut Thungari, KKIG tidak hanya berfungsi sebagai wadah untuk mempererat hubungan kekeluargaan warga asal Gorontalo. Organisasi tersebut juga memiliki peran strategis sebagai jembatan untuk memperkuat silaturahmi, toleransi, dan keharmonisan antarwarga.

Keberadaan organisasi kemasyarakatan seperti KKIG dinilai penting dalam menjaga suasana sosial yang kondusif, terutama di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang yang beragam.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, lanjutnya, berkomitmen mendukung berbagai kegiatan masyarakat yang mampu memberikan dampak positif terhadap persatuan dan kerukunan daerah.

“Kerukunan antarwarga merupakan fondasi utama dalam mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan. Karena itu, setiap inisiatif yang memperkuat persaudaraan, toleransi dan kebersamaan harus terus kita dukung,” tegasnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah DPC KKIG Sangihe pun diharapkan tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk berbenah diri, mempererat persaudaraan, dan merawat kerukunan sebagai kekuatan bersama dalam membangun Kabupaten Kepulauan Sangihe.

(Yosua Patras)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *