PROSULUT.com, WAREMBUNGAN,— Ibadah Jemaat GMIM G-WALE Warembungan, dipimpin oleh Ketua Jemaat, Pdt. Inggrit Matheos, M.Th. Dalam khotbah berdasarkan Keluaran 18:13–27, jemaat diajak memahami bahwa kepemimpinan bukanlah tentang mengerjakan segala sesuatu seorang diri, melainkan tentang kemampuan mendengarkan nasihat, melibatkan orang lain, serta membangun dan memberdayakan pemimpin-pemimpin baru dengan takut akan Tuhan pada Minggu, 6/9/2026.
Yitro mengingatkan bahwa jika Musa terus bekerja seorang diri, bukan hanya dirinya yang akan kelelahan, tetapi bangsa yang dipimpinnya juga akan mengalami kelelahan karena harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan penyelesaian atas persoalan mereka.
Karena itu, Yitro meminta Musa memilih orang-orang yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan membenci suap. Mereka kemudian diberikan tanggung jawab untuk memimpin kelompok-kelompok umat, mulai dari seribu orang, seratus orang, lima puluh orang, hingga sepuluh orang.
Kepemimpinan Bukan Tentang Mengerjakan Semuanya Sendiri
Dalam refleksinya, jemaat diingatkan bahwa seorang pemimpin yang berhasil bukanlah orang yang mampu melakukan segala sesuatu seorang diri. Sebaliknya, pemimpin yang berhasil adalah mereka yang mampu melahirkan, memberdayakan, dan mempercayakan tanggung jawab kepada pemimpin-pemimpin lainnya.
Kegagalan seorang pemimpin terkadang bukan disebabkan karena ia tidak mampu, tidak cakap, atau tidak memiliki pengetahuan. Namun, kegagalan dapat terjadi ketika seorang pemimpin tidak mau melibatkan orang lain, tidak memberikan kepercayaan, dan merasa semua pekerjaan harus diselesaikan sendiri.
Menerima masukan dan melibatkan orang lain bukanlah tanda kelemahan. Justru hal tersebut merupakan bentuk hikmat dan kebijaksanaan dalam menjalankan tanggung jawab.
Pemimpin Harus Cakap dan Takut Akan Tuhan
Salah satu pesan penting dari nasihat Yitro adalah bahwa orang yang dipilih menjadi pemimpin haruslah cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan membenci suap.
Kecakapan berarti memiliki kemampuan, pengetahuan, keterampilan, serta kesanggupan untuk menjalankan tanggung jawab. Namun, kecakapan saja tidak cukup.
Seseorang dapat memiliki kepintaran, pengetahuan, kemampuan berbicara, bahkan kedudukan yang tinggi. Tetapi apabila semuanya tidak dilandasi rasa takut akan Tuhan, kelebihan tersebut dapat berubah menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Karena itu, seorang pemimpin harus menyadari bahwa jabatan, pelayanan, pekerjaan, dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya bukan sekadar kebanggaan, melainkan titipan Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Nasihat Berlaku bagi Semua Orang
Pesan renungan ini tidak hanya ditujukan kepada pemimpin organisasi, gereja, masyarakat, atau bangsa. Prinsip yang sama juga berlaku dalam kehidupan keluarga.
Orang tua dan kepala keluarga merupakan pemimpin dalam keluarga. Karena itu, mereka juga perlu memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan masukan dan melibatkan anggota keluarga dalam menjalankan tanggung jawab bersama.
Demikian pula bagi generasi muda. Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, anak-anak muda diingatkan untuk tidak mengabaikan nasihat orang tua.
Pengetahuan dan teknologi memang berkembang sangat cepat, tetapi orang tua memiliki pengalaman hidup yang panjang. Dari pengalaman tersebut lahir nasihat, hikmat, dan pelajaran yang dapat menjadi bekal bagi generasi berikutnya.
Nasihat orang tua terkadang terasa seperti teguran atau bahkan dianggap sebagai sesuatu yang “cerewet”. Namun, seiring perjalanan kehidupan, seseorang dapat menyadari bahwa banyak nasihat orang tua ternyata memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan dan masa depannya.
Jangan Biarkan Masa Lalu Membatasi Panggilan Tuhan
Renungan ini juga memberikan penguatan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kelemahan, keterbatasan, bahkan masa lalu yang mungkin tidak baik.
Namun, kelemahan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengatakan, “Saya tidak mampu”, “Saya tidak cakap”, atau “Saya tidak layak menjadi pemimpin.”
Ketika Tuhan mempercayakan sebuah tanggung jawab, Tuhan juga dapat bekerja melalui keterbatasan manusia.
Yang terpenting bukan seberapa sempurna seseorang, melainkan bagaimana ia menjalankan kepercayaan tersebut dengan benar, bertanggung jawab, dan sesuai dengan kehendak Tuhan.
Yitro Pergi, tetapi Meninggalkan Warisan Iman
Musa akhirnya menerima nasihat Yitro. Ia tidak menolak masukan tersebut, tetapi mempertimbangkannya dan melaksanakannya.
Hasilnya, pekerjaan menjadi lebih teratur. Perkara-perkara kecil dapat diselesaikan oleh para pemimpin yang telah dipilih, sedangkan perkara-perkara yang lebih sulit dibawa kepada Musa.
Setelah memberikan nasihatnya, Yitro kembali ke negerinya. Ia pergi, tetapi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: warisan iman dan hikmat yang terus memberikan dampak bagi kehidupan umat Tuhan.(jet)




