Tuhan yang Memilih, Tuhan yang Memperlengkapi: Dari Perbudakan Menuju Kesaksian

Posted on

PROSULUT.com, Warembungan, Minahasa — Ibadah Minggu 16 Agustus 2026 Jemaat GMIM G-WALE Warembungan berlangsung dengan penuh sukacita dan penghayatan iman. Dalam ibadah tersebut, Ketua Majelis Jemaat, Pdt. Inggrit Kindangen Matheos, M.Th., memimpin pelayanan firman Tuhan dengan pembacaan Alkitab dari Keluaran 6:1-12.

 Firman yang disampaikan meneguhkan jemaat tentang karya Allah yang membebaskan umat-Nya dari perbudakan, menuntun dalam proses panjang, serta menggenapi janji-Nya.

Dalam khotbahnya, Pdt. Inggrit menjelaskan bahwa pengalaman Israel selama berada dalam perbudakan Mesir merupakan bagian dari perjalanan iman yang kemudian menjadi kesaksian tentang kuasa Allah.

 Tuhan tidak membiarkan penderitaan itu tanpa tujuan. Ketika umat mengalami penindasan, mereka belajar memahami betapa besar arti pembebasan dan betapa kuat tangan Tuhan yang menyelamatkan.

 Karena itu, penderitaan yang dilewati bersama Tuhan dapat menjadi kesaksian yang kuat bagi orang lain.

Menurutnya, perjalanan Israel menuju Tanah Perjanjian juga menunjukkan bahwa janji Tuhan tidak selalu digenapi melalui proses yang singkat. Bangsa Israel harus melewati padang gurun dan mengalami perjalanan yang panjang.

Generasi pertama yang keluar dari Mesir bahkan tidak masuk ke Tanah Kanaan, kecuali Yosua dan Kaleb, sebagaimana dicatat dalam Bilangan 14:30. Proses tersebut menjadi sarana Tuhan untuk membentuk umat-Nya agar belajar setia, taat, dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya.

“Sekalipun perjalanannya panjang, berputar-putar dan penuh air mata, di balik setiap apa yang Tuhan rancang, ujungnya adalah damai dan sukacita,” demikian pesan yang disampaikan.

Tuhan tidak membawa Israel keluar dari Mesir untuk kemudian membiarkan mereka mati di padang gurun. Tuhan membawa mereka keluar untuk masuk ke Tanah Perjanjian.

 Demikian pula dalam kehidupan orang percaya, proses yang panjang tidak berarti Tuhan meninggalkan umat-Nya, tetapi dapat menjadi bagian dari cara Tuhan mempersiapkan mereka menerima janji-Nya.

Pesan firman tersebut kemudian dikaitkan dengan persiapan pemilihan Pelayan Khusus (Pelsus) yang sedang berlangsung di Jemaat GMIM G-WALE Warembungan.

 Dalam proses katekisasi bakal calon Pelsus, tidak sedikit calon yang merasa takut dan ragu terhadap kemampuan diri sendiri.

Ada yang berkata, “Saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya takut, saya tidak cakap, saya banyak kekurangan dan dosa saya banyak.” Pergumulan tersebut dinilai wajar, sebab tokoh-tokoh yang dipakai Tuhan dalam Alkitab pun pernah merasa tidak layak ketika menerima panggilan-Nya.

Pdt. Inggrit kemudian mengarahkan jemaat pada perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Firman ini menjadi dasar bahwa pelayanan bukan pertama-tama berbicara tentang kelayakan manusia, melainkan tentang Tuhan yang memilih.

 Pelayan Tuhan tidak dipanggil karena merasa paling hebat atau paling mampu, tetapi karena Tuhan mempercayakan pelayanan dan kemudian memperlengkapi mereka untuk menjalankannya.

Karena itu, kepada para bakal calon Pelsus ditekankan tiga sikap penting dalam mempersiapkan diri, yakni motivasi yang benar, kerendahan hati, dan kesetiaan dalam proses.

 Pelayanan bukan dilakukan karena gengsi, jabatan, ataupun sekadar memenuhi permintaan kolom, melainkan sebagai ungkapan syukur karena telah terlebih dahulu menerima berkat Tuhan.

 Mengakui keterbatasan juga bukan alasan untuk mundur, sebab justru dalam kelemahan manusia, kuasa Tuhan dapat dinyatakan. Hal ini ditegaskan dalam 2 Korintus 12:9:

 “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Di akhir khotbah, jemaat kembali diteguhkan bahwa setiap panggilan Tuhan selalu disertai dengan penyertaan dan pemerlengkapan-Nya. “Jangan lihat kekuranganmu. Lihat Siapa yang memilih kamu. Kalau Tuhan yang memilih, Dia juga yang akan memperlengkapi.”

 Pesan tersebut menjadi ajakan bagi seluruh jemaat, terlebih para bakal calon Pelsus, untuk tidak takut memasuki proses pelayanan. Sebab mereka yang dipanggil bukan berjalan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan Tuhan yang memilih, menyertai, memampukan, dan membawa setiap proses menuju kesaksian bagi kemuliaan nama-Nya.(jet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *