PROSULUT.com, MANADO — Nama Stifanny Ling Tulandi menjadi salah satu kisah yang menghangatkan hati di lingkungan SD Negeri 42 Manado. Waktu boleh berlalu, jarak boleh memisahkan, namun kenangan dan rasa hormat kepada para guru serta sekolah tempat ia dibesarkan tak pernah pudar.
Bagi Stifanny, bangku sekolah dasar di bilangan lorong Karona Teling, bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. Di sanalah ia belajar tentang arti disiplin, tanggung jawab, dan pentingnya menghargai proses. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam setiap langkah hidupnya.
Perjalanan membawanya merantau dan menapaki dunia usaha. Kota Surabaya dan Bandung kini menjadi pusat aktivitas bisnisnya. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia membangun usahanya secara bertahap. Tantangan demi tantangan hadir silih berganti, namun tak pernah sekalipun memadamkan semangatnya.
Perempuan yang akrab disapa Fanny ini meyakini bahwa setiap proses memiliki makna. Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian materi, melainkan tentang bagaimana tetap rendah hati dan bersyukur dalam setiap keadaan.
“Kita harus tetap tekun dan selalu mengucap syukur kepada Tuhan. Dialah sumber kehidupan dan rezeki,” prinsip yang selalu ia pegang teguh.
Di balik kesibukannya sebagai pebisnis, Fanny juga menikmati peran terindah dalam hidupnya sebagai seorang ibu. Kehadiran putranya, Jorel Karsten Oei, menjadi penguat sekaligus pengingat bahwa setiap perjuangan memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar kesuksesan pribadi.
Kisah Stifanny Tulandi adalah potret tentang mimpi yang diraih tanpa melupakan akar.
Tentang langkah yang menjauh dari kampung halaman, namun hati yang tetap tertambat pada nilai-nilai awal kehidupan. Dari ruang kelas sederhana di Manado hingga geliat bisnis di kota besar, ia membuktikan bahwa ketekunan, doa, dan rasa syukur adalah harmoni yang mampu mengantarkan seseorang pada keberhasilan yang bermakna.
jet




