PROSULUT.com, SANGIHE – Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, S.E., M.M., resmi menutup Operasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan hutan lindung Gunung Api Awu, Kamis (15/10/2026), setelah kebakaran yang ditangani sejak 5 September 2026 berhasil dipadamkan. Meski operasi berakhir, Thungari mengeluarkan peringatan keras agar seluruh pihak tidak lengah terhadap ancaman kebakaran susulan.
Penutupan operasi ditandai dengan apel bersama di Lapangan Gelora Santiago, Rumah Jabatan Bupati Kepulauan Sangihe. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Tendris Bulahari, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI-Polri, BPBD, jajaran perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan kampung, serta para relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran.
Dalam sambutannya, Thungari menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel gabungan dan masyarakat yang telah bekerja keras memadamkan api di kawasan Gunung Api Awu. Ia menegaskan, keberhasilan penanganan Karhutla merupakan buah dari kerja sama, pengorbanan, dan semangat gotong royong seluruh unsur yang terlibat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh personel TNI-Polri, BPBD, Dinas Kehutanan, tenaga kesehatan, aparat wilayah, serta para relawan yang telah bekerja keras hingga kebakaran berhasil ditangani,” ujar Thungari.
Bupati juga menekankan bahwa penanganan bencana tidak semata-mata bergantung pada peralatan canggih, tetapi membutuhkan persatuan dan keterlibatan masyarakat. “Saya sadar, ternyata kita tidak terlalu perlu helikopter. Yang kita perlukan adalah persatuan seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe,” ungkapnya.
Namun, Thungari mengingatkan bahwa keberhasilan memadamkan api bukan alasan untuk menghentikan pengawasan. Ia meminta instansi terkait tetap menjalankan pemantauan kawasan rawan, memperkuat langkah pencegahan, serta menyesuaikan kesiapsiagaan dengan kondisi di lapangan guna mengantisipasi munculnya titik api baru.
“Penutupan operasi ini bukan berarti berakhirnya kewaspadaan, pemantauan, dan pencegahan. Semua harus tetap berjalan sesuai kondisi di lapangan,” tegasnya.
Selain ancaman kebakaran susulan, Thungari turut menyoroti kabut asap yang belakangan menjadi perhatian di sejumlah wilayah Sulawesi Utara, termasuk Pulau Sangihe. Kabut asap tersebut diduga berkaitan dengan kebakaran hutan di wilayah Papua, meski sumber dan arah penyebarannya masih perlu dipastikan berdasarkan informasi dari instansi berwenang.
Ia pun mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kabut asap semakin pekat, menggunakan masker yang sesuai, serta memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, lanjut usia, dan kelompok rentan terhadap gangguan pernapasan.
Thungari meminta seluruh instansi terkait terus berkoordinasi, menyampaikan informasi yang akurat, dan meningkatkan kesiapsiagaan agar masyarakat tetap terlindungi dari ancaman Karhutla maupun dampak kabut asap.
(Yosua Patras)




