PROSULUT.com, MINAHASA – Suasana hening dan penuh perenungan menyelimuti ibadah Minggu Sengsara ke-6 di GMIM G-WALE Warembungan, Minahasa, pada Minggu (29/3/2026).
Di tengah kekhusyukan itu, tersampaikan sebuah pesan sederhana namun sangat mendalam, meninggalkan iri hati dan dengki dalam kehidupan sehari-hari.
Ibadah dipimpin oleh Ketua Jemaat, Pendeta Inggrit Kindangen Matheos, M.Th., yang membuka pelayanan dengan sapaan penuh damai, “Syalom, damai di hati.” Sapaan ini menjadi pintu masuk bagi jemaat untuk merenung dan membuka hati terhadap firman Tuhan.

Melalui pembacaan Alkitab dari Markus 15:1–15 tentang Yesus di hadapan Pilatus, jemaat diajak melihat bagaimana Yesus menghadapi penderitaan tanpa perlawanan. Ia tidak membela diri, meski difitnah dan diadili secara tidak adil. Dalam diam-Nya, tersimpan kasih yang begitu besar bagi umat manusia.
Dalam khotbahnya, Pendeta Inggrit menyoroti bahwa iri hati dan dengki merupakan “penyakit hati” yang sering kali tumbuh tanpa disadari. Perasaan ini dapat merusak hubungan, menumbuhkan kebencian, dan menjauhkan manusia dari kasih Tuhan.
“Belajar dari Yesus, kita diajak untuk hidup dalam kasih, bukan dalam iri dan dengki,” menjadi inti pesan yang disampaikan kepada jemaat.
Jemaat pun diajak untuk mengubah cara hidup, meninggalkan sikap negatif dan mulai menghidupi karakter Kristus yang penuh kasih, kerendahan hati, dan ketulusan. Hidup sebagai pembawa damai menjadi panggilan nyata bagi setiap orang percaya.
Ibadah semakin bermakna dengan pelaksanaan sakramen Baptisan Kudus bagi adik Eldrea dari keluarga Rifai–Watung, sebagai tanda kehidupan baru yang berakar dalam kasih Tuhan.
Di akhir ibadah, jemaat pulang dengan hati yang diteguhkan. Pesan tentang menjauhi iri dan dengki tidak hanya menjadi bahan renungan, tetapi juga menjadi ajakan untuk berubah dan hidup lebih baik.
Di tengah dunia yang penuh perbandingan dan persaingan, kasih tetap menjadi jalan yang memulihkan.(jet)




